KONEKSI ANTAR MATARI MODUL 2.3 COACHING
KONEKSI ANTAR MATARI MODUL 2.3 COACHING
KONEKSI
ANTAR MATERI MODUL 2.3
Filosofis
Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara
KHD
menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada
anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh
sebab itu, pendidik itu hanya dapat ?menuntun tumbuh atau hidupnya
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki ?laku?nya
(bukan dasarnya) hidup dan ?tumbuh?nya kekuatan kodrat anak”
Dalam
proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam
memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan
dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan
kemerdekaannya dalam belajar. Peran pamong di sini dimaksud adalah guru menjadi
coach bagi muridnya agar mereka dapat menentukan arah yang baik untuk
kehidupannya
Visi
Guru Penggerak
Visi
merupakan awal dari usaha untuk menggapai sesuatu yang kita impikan. Visi
memberikan arah dan motivasi untuk meraih perubahan yang diimpikan atau
dicita-citakan.
Sebagai
seorang guru, terlebih guru penggerak tentu memiliki visi. Visi dari guru
penggerak adalah mewujudkan anak Indonesia yang memiliki profil pelajar
Pancasila. Yaitu pelajar yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
mandiri, inovatif, berkebhinekaan global, mampu hidup bergotong royong, serta
mampu bernalar kritis.
Untuk
mencapai visi tersebut, tentunya guru harus memiliki nilai yang melekat dalam
dirinya. Nilai-nilai tersebut adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif,
dan berpihak pada murid.
Di
samping nilai-nilai tersebut, seorang guru penggerak juga harus memainkan
perannya dalam dunia pendidikan yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, mampu
menggerakkan kelompok-kelompok praktisi, mampu menjadi coach atau pelatih bagi
guru-guru lain, mampu mendorong kerja sama antar guru, dan mendorong
kepemimpinan yang berorientasi pada murid.
Dengan peran dan nilai tersebut. Maka diharapkan guru mampu mewujudkan siswa yang merdeka belajar. Guru yang mampu mewujudkan siswa yang berprofil pelajar Pancasila.
Pembelajaran
Berdiferensiasi
Pembelajaran
berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang
dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Sebagai guru kita
perlu menyadari anak-anak di usia SMP, datang ke sekolah, belum tentu memliki
kesamaan ukuran, kesukaan, minat, waktu untuk memahami sesuatu, semua pasti
berbeda karena setiap anak itu unik. Maka sebagai guru tidak berhak kita
menyamakan cara mendidik, cara menuntun murid, kita harus memahami kebutuhan
murid, minta belajar, kesiapan belajar murid, dan memahami profil belajarnya.
Kita tidak bisa memaksakan murid langsung memahami materi yang kita ajarkan,
mencapai nilai bagus secara instan dengan gaya mengajar kita yang sama.
Pembelajaran
Sosial Emosional
Pembelajaran
Sosial dan Emosional (PSE) merupakn sebuah proses pembelajaran yang dilakukan
secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini
memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan
emosional. Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk:
memberikan
pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi
menetapkan
dan mencapai tujuan positif
merasakan
dan menunjukkan empati kepada orang lain
membangun
dan mempertahankan hubungan yang positif
membuat
keputusan yang bertanggung jawab.
Pse
sangatlah penting pembelajaran ini berisi keterampilan yang membantu anak untuk
dapat bertahan dalam masalah dan mampu memecahkannya juga untuk mengajarkan
mereka untuk menjadi orang baik
Coaching
Sebuah
proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan
sistematis, di mana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja,
pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Granr,
1999)
Ki
Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya
atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh
sebab itu keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun
segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan
sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi
kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan
memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan
membahayakan dirinya.
Dalam
konteks pendidikan Indonesia saat ini, pendekatan coaching menjadi salah satu
proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah.
Pendampingan dengan pendekatan Coaching menjadi proses yang sangat penting
dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program Merdeka Belajar
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat
murid menjadi lebih merdeka dalam mengeksplorasi diri dan mengoptimalisasikan
potensi guna mencapai tujuan pembelajaran. Harapannya, pendampingan murid
melalui pendekatan coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru
untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar
Sistem
Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,
menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan
menggunakan pendekatan Coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam
pendekatan proses Coaching. Sebagai seorang Guru dengan semangat Tut Wuri
Handayani, maka perlulah kita menghayati dan memaknai cara berpikir atau
mindset Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan
coaching. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog
antara guru dan murid yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang
perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara
berpikir ini dapat melatih guru dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani
dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran
Komentar
Posting Komentar